Selasa, 31 Mei 2011

MENGENAL LEBIH DEKAT MADURA

A.Suku Madura
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Suku Madura merupakan etnis dengan populasi besar di Indonesia, jumlahnya sekitar 20 juta jiwa. Mereka berasal dari Pulau Madura dan pulau-pulau sekitarnya, seperti Gili Raja, Sapudi, Raas, dan Kangean. Selain itu, orang Madura tinggal di bagian timur Jawa Timurbiasa disebut wilayah Tapal kuda,dari Pasuruan sampai utara Banyuwangi. Orang Madura yang berada di Situbondo dan Bondowoso, serta timur Probolinggo,Jember, jumlahnya paling banyak dan jarang yang bisa berbahasa Jawa, juga termasuk Surabaya Utara ,serta sebagian Malang

Disamping suku Jawa dan Sunda, orang Madura juga banyak yang bertransmigrasi ke wilayah lain terutama ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, serta ke Jakarta,Tanggerang,Depok,Bogor,Bekasi,dan sekitarnya, juga Negara Timur Tengah khususnya Saudi Arabia. Beberapa kota di Kalimantan seperti Sampit dan Sambas, pernah terjadi kerusuhan etnis yang melibatkan orang Madura. Orang Madura pada dasarnya adalah orang yang suka merantau karena keadaan wilayahnya yang tidak baik untuk bertani. Orang Madura senang berdagang, terutama besi tua dan barang-barang bekas lainnya. Selain itu banyak yang bekerja menjadi nelayan dan buruh,serta beberapa ada yang berhasil menjadi,Tekonokrat,Biokrat,Mentri atau Pangkat tinggi di dunia militer.

Suku Madura terkenal karena gaya bicaranya yang blak-blakan serta sifatnya yang temperamental dan mudah tersinggung, tetapi mereka juga dikenal hemat, disiplin, dan rajin bekerja. Untuk naik haji, orang Madura sekalipun miskin pasti menyisihkan sedikit penghasilannya untuk simpanan naik haji. Selain itu orang Madura dikenal mempunyai tradisi Islam yang kuat, sekalipun kadang melakukan ritual Pethik Laut atau Rokat Tasse (sama dengan larung sesaji).

Harga diri, juga paling penting dalam kehidupan orang Madura, mereka memiliki sebuah peribahasa lebbi bagus pote tollang, atembang pote mata. Artinya, lebih baik mati (putih tulang) daripada malu (putih mata). Sifat yang seperti ini melahirkan tradisi carok pada masyarakat Madura.

B. Bahasa Madura

Bahasa Madura adalah bahasa yang digunakan Suku Madura. Bahasa Madura mempunyai penutur kurang lebih 14 juta orang [1], dan terpusat di Pulau Madura, Ujung Timur Pulau Jawa atau di kawasan yang disebut kawasan Tapal Kuda terbentang dari Pasuruan, Surabaya, Malang, sampai Banyuwangi, Kepulauan Masalembo, hingga Pulau Kalimantan.

Bahasa Kangean, walau serumpun, dianggap bahasa tersendiri.

Di Pulau Kalimantan, masyarakat Madura terpusat di kawasan Sambas, Pontianak, Bengkayang dan Ketapang, Kalimantan Barat, sedangkan di Kalimantan Tengah mereka berkonsentrasi di daerah Kotawaringin Timur, Palangkaraya dan Kapuas. Namun kebanyakan generasi muda Madura di kawasan ini sudah hilang penguasaan terhadap bahasa ibunda mereka

1. Kosa Kata
Bahasa Madura merupakan anak cabang dari bahasa Austronesia ranting Malayo-Polinesia, sehingga mempunyai kesamaan dengan bahasa-bahasa daerah lainnya di Indonesia.

Bahasa Madura banyak terpengaruh oleh Bahasa Jawa, Melayu, Bugis, Tionghoa dan lain sebagainya. Pengaruh bahasa Jawa sangat terasa dalam bentuk sistem hierarki berbahasa sebagai akibat pendudukan Mataram atas Pulau Madura. Banyak juga kata-kata dalam bahasa ini yang berakar dari bahasa Indonesia atau Melayu bahkan dengan Minangkabau, tetapi sudah tentu dengan lafal yang berbeda.

Contoh :

* bhila (huruf "a" dibaca [e] (info)) sama dengan bila = kapan
* oreng = orang
* tadha' = tidak ada (hampir sama dengan kata tadak dalam Melayu Pontianak)
* dhimma (baca: dimmah) = mana? (hampir serupa dengan dima di Minangkabau)
* tanya = sama dengan tanya
* cakalan = tongkol (hampir mirip dengan kata Bugis : cakalang tapi tidak sengau)
* onggu = sungguh, benar (dari kata sungguh)
* Kamma (baca: kammah mirip dengan kata kama di Minangkabau)= kemana?

2. Sistem Pengucapan

Bahasa Madura mempunyai sistem pelafalan yang unik. Begitu uniknya sehingga orang luar Madura yang berusaha mempelajarinyapun mengalami kesulitan, khususnya dari segi pelafalan tadi.

Bahasa Madura mempunyai lafal sentak dan ditekan terutama pada konsonan [b], [d], [j], [g], jh, dh dan bh atau pada konsonan rangkap seperti jj, dd dan bb . Namun demikian penekanan ini sering terjadi pada suku kata bagian tengah.

Sedangkan untuk sistem vokal, Bahasa Madura mengenal vokal [a], [i], [u], [e], [ə] dan [o].

3. Tingkatan Bahasa

Bahasa Madura sebagaimana bahasa-bahasa di kawasan Jawa dan Bali juga mengenal Tingkatan-tingkatan, namun agak berbeda karena hanya terbagi atas tiga tingkat yakni:

* Ja' - iya (sama dengan ngoko)
* Engghi-Enthen (sama dengan Madya)
* Engghi-Bunthen (sama dengan Krama)

Contoh :

* Berempa' arghena paona?: Mangganya berapa harganya? (Ja'-iya)
* Saponapa argheneppon paona?: Mangganya berapa harganya? (Engghi-Bunthen)

4. Dialek - dialek Bahasa Madura

Bahasa Madura juga mempunyai dialek-dialek yang tersebar di seluruh wilayah tuturnya. Di Pulau Madura sendiri pada galibnya terdapat beberapa dialek seperti:

* Dialek Bangkalan
* Dialek Sampang
* Dialek Pamekasan
* Dialek Sumenep, dan
* Dialek Kangean

Dialek yang dijadikan acuan standar Bahasa Madura adalah dialek Sumenep, karena Sumenep di masa lalu merupakan pusat kerajaan dan kebudayaan Madura. Sedangkan dialek-dialek lainnya merupakan dialek rural yang lambat laun bercampur seiring dengan mobilisasi yang terjadi di kalangan masyarakat Madura. Untuk di pulau Jawa, dialek-dialek ini seringkali bercampur dengan Bahasa Jawa sehingga kerap mereka lebih suka dipanggil sebagai Pendalungan daripada sebagai Madura. Masyarakat di Pulau Jawa, terkecuali daerah Situbondo, Bondowoso, dan bagian timur Probolinggo umumnya menguasai Bahasa Jawa selain Madura.

Contoh pada kasus kata ganti "kamu":

* kata be'en umum digunakan di Madura. Namun kata be'na dipakai di Sumenep.
* sedangkan kata kakeh untuk kamu lazim dipakai di Bangkalan bagian timur dan Sampang.
* Heddeh dan Seddeh dipakai di daerah pedesaan Bangkalan.

Khusus Dialek Kangean, dialek ini merupakan sempalan dari Bahasa Madura yang karena berbedanya hingga kerap dianggap bukan bagian Bahasa Madura, khususnya oleh masyarakat Madura daratan.

Contoh:

* akoh: saya (sengko' dalam bahasa Madura daratan)
* kaoh: kamu (be'en atau be'na dalam bahasa Madura daratan)
* berrA' : barat (berre' dengan e schwa dalam bahasa Madura daratan)
* morrAh: murah (modhe dalam bahasa Madura daratan)

5. Hubungan Bahasa Madura dengan Bahasa Bawean

Bahasa Bawean ditengarai sebagai kreolisasi bahasa Madura, karena kata-kata dasarnya yang berasal dari bahasa ini, namun bercampur aduk dengan kata-kata Melayu dan Inggris serta bahasa Jawa karena banyaknya orang Bawean yang bekerja atau bermigrasi ke Malaysia dan Singapura, Bahasa Bawean memiliki ragam dialek bahasa biasanya setiap kawasan atau kampung mempunyai dialek bahasa sendiri seperti Bahasa Bawean Dialek Daun, Dialek Kumalasa, Dialek Pudakit dan juga Dialek Diponggo. Bahasa ini dituturkan di Pulau Bawean, Gresik, Malaysia, dan Singapura. Di dua tempat terakhir ini bahasa Bawean dikenal sebagai Boyanese. Intonasi orang Bawean mudah dikenali di kalangan penutur bahasa Madura. Perbedaan kedua bahasa dapat diibaratkan dengan perbedaan antara bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia, yang serupa tapi tak sama meskipun masing-masing dapat memahami maksudnya. Contoh-contoh:

* eson atau ehon = aku (sengkok/engkok dalam bahasa Madura)
* kalaaken = ambilkan (kalaagghi dalam bahasa Madura)
* trimakasih = terimakasih (salengkong / sakalangkong / kalangkong dalam Bahasa Madura)
* adek = depan (adek artinya dalam bahasa Madura

6. Perbandingan Bahasa Madura dengan Bahasa Lain

a. Perbandingan Bahasa Madura /Bawean dengan Bahasa Melayu

Bahasa Bawean juga banyak yang sememangnya sama dengan Bahasa Melayu, contohnya:

* Dapur (baca: Depor) = Dapur
* Kanan = Kanan
* Banyak (baca: benyyak) = Banyak
* Masuk = Masuk
* Suruh = Suruh

Perbedaan imbuhan di depan, contohnya:

* Ngakan = Makan
* Nginum = Minum
* Arangkak = Merangkak

Konsonan [j] biasanya ditukar ke [d͡ʒ], seperti:

* Bajar (baca: Bejer) = Bayar
* Lajan (baca: Lajen) = Layan
* Sembhajang (baca: sembejeng) = Sembahyang

Konsonan [w] di pertengahan pula ditukar ke konsonan [b], seperti:

* Bhabang (baca: Bebeng)= Bawang
* Jhaba (baca: Jebe) = Jawa

b. Perbandingan Bahasa Madura / Bawean dengan Bahasa Jawa

Perkataan yang sama dengan bahasa Jawa:

Bahasa Jawa = Bahasa Bawean

* Kadung = Kadung (Bahasa Melayu = Terlanjur)
* Peteng = Peteng (Bahasa Melayu = Gelap)

Konsonan [w] di pertengahan pula ditukar ke konsonan [b], seperti:

Bahasa Jawa ~ Bahasa Bawean

* Lawang = Labang(baca Labeng) (Bahasa Melayu = Pintu)

Konsonan [j] di pertengahan pula ditukar ke konsonan [d͡ʒ], seperti:

* Payu = paju (Bahasa Melayu = Laku)

c. Perbandingan Bahasa Madura/ Bawean dengan Bahasa Banjar

Perkataan yang sama dengan bahasa Banjar:

Bahasa Banjar = Bahasa Bawean

* Mukena = Mukena (Bahasa Melayu = Telekung Sembahyang)
* Bibini = Bibini (Bahasa Melayu = Perempuan)

d. Perbandingan Bahasa Madura/ Bawean dengan Bahasa Tagalog

Bahasa Bawean = Bahasa Tagalog

* Apoy = Apoy (Bahasa Melayu = Api)
* Elong = Elong; penggunaan [e] (Bahasa Melayu = Hidung)
* Matay = Mamatay (Bahasa Melayu = Mati)

Contoh:

* Eson terro ka be'na = saya sayang kamu (di Bawean ada juga yang menyebutnya Ehon, Eson tidak dikenal di bahasa Madura)
* Bhuk, badha berrus? = Buk, ada sikat? (berrus dari kata brush)
* Ekalakaken = ambilkan (di Madura ekala'aghi, ada pengaruh Jawa kuno di akhiran -aken).
* Silling = langit-langit (dari kata ceiling)

Tidak ada komentar: